Masih dalam semangat tahun baru, United Nations Food and Agriculture Organization (FAO), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sukses menyelenggarakan workshop Water Accounting Roadmap (WARM) kedua secara hybrid pada tanggal 23 – 25 Januari 2024 yang dipimpin oleh Alluvium, mitra Australia dari Water Scarcity Program (WSP). Kegiatan ini menindaklanjuti acara Water Accounting Roadmap Workshop pertama yang diselenggarakan tahun lalu dan workshop kedua ini diikuti oleh 25 peserta offline dan 7 peserta yang bergabung secara online.

Hari pertama – Mendefinisikan tujuan dan ruang lingkup pengumpulan, pemrosesan, dan penyimpanan data dalam pendekatan nasional.

Untuk memulai workshop secara resmi, Ibu Titih Titisari, dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Bappenas, memberikan sambutannya dengan harapan workshop yang berlangsung selama tiga hari ke depan dapat memberikan pemahaman dan dasar yang kuat untuk menyiapkan neraca dan alokasi air yang efisien, serta rencana aksi pengelolaan kelangkaan air nasional. Dalam workshop hari ini, fokusnya adalah untuk mendapatkan klarifikasi atau identifikasi tentang bagaimana akuntansi air diatur di tingkat nasional, terutama untuk akuntansi air dilakukan di tingkat das dan bagaimana kedua pendekatan tersebut sesuai. Dalam workshop hari ini juga, peserta secara aktif berpartisipasi dalam beberapa sesi diskusi yang dibagi menjadi tiga.

Foto 1 - Hari pertama Workshop WARM II

Diskusi pertama adalah untuk mengetahui maksud dari peraturan tingkat nasional juga kepedulian terhadap pembuat kebijakan di berbagai tingkatan, dan pertimbangan lebih lanjut. Pada diskusi kedua, peserta berdiskusi untuk mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana di tingkat nasional untuk mengumpulkan data dan jenis data kemudian menemukan bahwa beberapa platform untuk berbagi data telah tersedia dan banyak informasi hidrologi (neraca air) dapat ditemukan secara online

Ini adalah info pengguna air yang sulit didapat (aktual tidak dialokasikan), dan analisis akuntansi harus ramah pengguna. Diskusi ketiga adalah fokus pada analisis akuntansi air dari jenis model yang digunakan dan input serts output spesifik yang diperlukan. Diskusi terakhir adalah menekankan informasi tentang pelaporan dan komunikasi yang di Indonesia, template yang baik untuk pelaporan sudah ada.

Hari kedua – WEAP vs RIBASIM, pendekatan tingkat das, dan DAS Cimanuk Cisanggarung.

Pada hari kedua, peserta mendapatkan gambaran umum tentang DAS Cimanuk yang dijelaskan secara rinci oleh Bapak Roni Farfian, perwakilan tim DAS Cimanuk Cisanggarung, menjelaskan kesiapan mereka dalam rencana alokasi air tahunan dan rencana rinci alokasi air seperti pemetaan dan informasi untuk daerah irigasi dan titik pasokan, pasokan PDAM dan lokasi pengguna air lainnya. Untuk mengumpulkan banyak perspektif, peserta secara interaktif mendiskusikan tingkat minimum data yang dibutuhkan untuk mengembangkan kerangka akuntansi air.

Foto 2 - Bapak Roni Farfian dari Cimancis BBWS

Dapat diketahui bahwa profil DAS Cimanuk Cisanggarung sudah komprehensif dan menggunakan kebijakan satu peta untuk DAS dan semua data dipusatkan di Balai Pengelolaan DAS di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menggunakan WEAP untuk memodelkan data. DAS Cimanuk Cisanggarung ini sudah dapat menjadi contoh yang baik tentang bagaimana pengelolaan daerah aliran sungai dipersiapkan dengan baik meskipun ada pembaruan kecil yang mungkin dilakukan, dan dapat direplikasi di daerah aliran sungai lain di Indonesia.

Hari ketiga – Pelaporan dan komunikasi.

Foto 3 - Bapak Ir. Juari ME dari Bappenas

Pada hari terakhir workshop dibuka oleh Bapak Ir. Juari ME dari Direktorat Sumber Daya Air Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan pesan dan harapan bahwa pembelajaran tiga hari terakhir ini dapat meningkatkan kapasitas negara untuk mengimplementasikan penghitungan air untuk menerjemahkannya ke dalam rencana yang baik untuk daerah aliran sungai. Selain itu, bagi orang lain yang tidak dapat mengikuti lokakarya dan mempersiapkan sumber daya manusia di masa depan, semua materi dan hasil diskusi diharapkan dapat dibagikan.

Masuk kedalam kegiatan workshop, peserta terlibat dalam diskusi kelompok baik secara offline dan online, untuk mengeksplorasi informasi air penting untuk kebutuhan pengguna yang berbeda untuk diungkapkan dan bagaimana memandu untuk menyiapkan akuntansi, kemudian untuk mengartikulasikan ke dalam template yang dapat disajikan ke kelompok lain. Ini dilakukan dengan mensimulasikan setiap tim sebagai kelompok pengguna akhir, yaitu dapat termasuk: industri, pemerintah daerah, dan manajer irigasi.

Setelah diskusi dan pemaparan hasil dari masing-masing kelompok, Bapak Ewin Sofian Winata, ST, MEM, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memberikan penutupan untuk mengharapkan dari acara ini dapat meningkatkan tata kelola dan penghitungan air bagi bangsa, karena ketahanan air sudah menjadi kompas kebijakan. Misalnya, program perbaikan daerah aliran sungai terutama untuk informasi, ketersediaan data, dan kesenjangan lain yang ditemukan dalam workshop tiga hari ini akan di bawa oleh pemerintah untuk mengisi melalui program-program, serta menjadi informasi dan panduan yang berharga bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan dan strategi nasional.

Foto 4 - Diskusi Grup

Workshop Water Accounting Roadmap (WARM) ini akan ditindaklanjuti melalui tahap ketiga dengan rencana akan diselenggarakan pada akhir Maret 2024 yang dipimpin oleh tim Alluvium.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi (Bapak) Fany Wedahuditama: fany@ws-indonesia.org dan/atau fany.wedahuditama@gwpsea.org

Workshop Water Accounting Roadmap (WARM) II ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Australian Water Partnership dan UN Food and Agriculture Organization (FAO).

Setelah training Akuntansi dan Alokasi Air pertama yang diadakan sebelumnya pada bulan Agustus, kami berhasil mengadakan pelatihan tatap muka kedua dari tanggal 4 – 8 Desember 2023 yang dipimpin oleh para pelatih dari FutureWater dengan dukungan dari United Nations Food and Agriculture Organization (FAO), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Secara total, 25 peserta mengikuti pelatihan dengan satu peserta pelatihan bergabung secara online.

Bertujuan untuk meningkatkan kapasitas untuk mengambil langkah-langkah praktis untuk mengatasi dan mengelola kelangkaan air dengan mengalami pertumbuhan penduduk yang cepat di bawah iklim yang berubah, Training Akuntansi dan Alokasi Air kedua ini bertujuan untuk mengembangkan akuntasi air menggunakan berbagai alat pemodelan geospasial dan sumber daya air untuk DAS Cimanuk sebagai contoh.

Hari kesatu (1) dan ke-2 – Alat untuk Akuntansi Air dan Pengumpulan serta Analisis Data melalui Penginderaan Jauh.

Foto 1 - Training II Hari Pertama

Ibu Titih Titisari, dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Bappenas, secara resmi memulai dan membuka training kedua dengan sambutan pembukaannya. Modul pelatihan yang dibahas pada dua hari pertama difokuskan pada penilaian ketersediaan dan aksesibilitas data di DAS Cimanuk.

Para peserta belajar bagaimana penginderaan jauh dapat digunakan untuk menginformasikan keputusan pengelolaan sumber daya air dan lebih khusus lagi, bagaimana hal itu dapat melengkapi pendekatan Akuntansi Air. Dengan menggunakan Google Earth Engine, peserta mengekstraksi, memproses, dan menganalisis kumpulan data penginderaan jauh yang berbeda untuk menilai curah hujan, penggunaan lahan, dan evapotranspirasi untuk DAS Cimanuk, melihat tren selama musim hujan dan kemarau.

Hari ke-3 dan ke-4 – Bekerja dengan model WEAP (Water Evaluation and Planning System) dan Skenario Penilaian menggunakan WEAP.

Pada hari ketiga dan keempat, para peserta mempelajari hal-hal dasar dari model Water Evaluation and Planning System (WEAP) model menggunakan DAS Cimanuk sebagai studi kasus. Training, yang terdiri dari latihan langsung serta kerja kelompok, memungkinkan peserta untuk memperbarui model dengan meningkatkan variabel input yang berbeda dan menilai dampak dari intervensi dan proyeksi yang berbeda terhadap Keamanan Air di daerah tangkapan air.

Photo 2 - Training II Day 3

Hari ke-5 – Kunjungan ke DAS Cimanuk.

Pada hari terakhir training, seluruh peserta training dan pelatih mengunjungi DAS Cimanuk di Cirebon, Jawa Barat. Sebelum kunjungan yang diajukan, rombongan disambut oleh Kepala Bidang Operasional Balai Besar Cimanuk Cisangerung (Cisanggerung). Selama sesi penyambutan, para kelompok memiliki kesempatan untuk berbagi wawasan dari Program Kelangkaan Air (RPAM), pelatihan akuntansi air dan kerja kelompok para peserta training. Setelah pemaparan dari kelompok-kelompok, konsultan WEAP dari BBWS Cimanuk-Cisanggerung mempresentasikan kerangka regulasi dan metode perumusan neraca air tangkapan air di DAS Cimanuk Cisanggerung.

Photo 3 - Training II Day 5
Photo 4 - Training II visitation day

Tinjauan ini menghasilkan diskusi yang produktif dan memungkinkan peserta untuk menyadari kegunaan WEAP untuk mengelola sumber daya air di dunia praktis. Setelah diskusi dengan BBWS Cimanuk Cisanggerung, rombongan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Bendung Rentang dan pintu air Cipelang. Pejabat dari BBWS Cimanuk Cisanggerung berbagi tantangan dan peningkatan Bendung Rentang. Presentasi ini memberikan informasi praktis kepada kelompok yang akan membantu untuk lebih memperkuat model WEAP. Dengan ini, kunjungan lapangan berakhir dan rombongan kembali ke Jakarta.

Training akuntansi air ini akan ditindaklanjuti dengan Lokakarya Water Accounting Roadmap (WARM) kedua pada bulan Januari, di mana para kelompok akan berkumpul kembali untuk mulai mempersiapkan pilot akuntansi dan alokasi air untuk DAS Cimanuk Cisanggerung. Workshop ini akan dipimpin oleh tim Alluvium dan direncanakan pada pertengahan Januari 2024.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi (Bapak) Fany Wedahuditama: fany@ws-indonesia.org dan/atau fany.wedahuditama@gwpsea.org

Training Akuntansi dan Alokasi Air II ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Australian Water Partnership dan the UN Food and Agriculture Organization.

Memiliki akses menuju air minum bersih dan layanan sanitasi adalah masalah serius yang terjadi di dunia. Bagi ratusan juta orang yang tinggal di daerah yang terkena dampak kekerasan atau konflik bersenjata, situasinya semakin memburuk. Seperti perang Rusia di Ukraina dan serangan Israel terhadap sumber daya air Palestina di Tepi Barat.

Dalam perang Rusia di Ukraina, infrastruktur untuk sistem air dan sanitasi negara telah hancur total oleh serangan terhadap pasokan air oleh kedua belah pihak. Sistem pasokan dan pengolahan air yang digunakan oleh warga sipil telah mengalami kerusakan, digunakan sebagai senjata dalam serangan yang disengaja, dan berada di bawah tekanan karena pergerakan penduduk yang signifikan.

Kemudian, ketika permusuhan meningkat mulai 7 Oktober 2023, situasi kemanusiaan di Gaza secara substansial memburuk. 2,3 juta orang yang tinggal di Jalur Gaza — yang setengahnya merupakan anak-anak — saat ini berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka akan air, sanitasi, dan kebersihan. Beberapa terpaksa mulai mengebor sumur di dekat laut untuk mendapatkan air minum, atau mereka bergantung pada air keran garam dari satu-satunya akuifer di Gaza, yang tercemar dengan limbah dan air asin. Selain itu, blokade pada bahan bakar yang menggerakkan pembangkit listrik mengakibatkan pembatasan atau penghentian pasokan air dan listrik yang parah. Di wilayah utara, truk air — praktik pengiriman air melalui truk — telah benar-benar berhenti atau terhambat secara signifikan.

Sudah umum diketahui bahwa memiliki akses ke air minum yang bersih, terjangkau, dan aman serta layanan sanitasi adalah hak asasi manusia yang mendasar, maka dari itu, Water Stewardship Indonesia (WSI) menyerukan dan mendesak untuk segera menghentikan serangan dan dorongan untuk menerapkan beberapa langkah, untuk menjamin bahwa setiap orang, terutama perempuan dan anak-anak, dilindungi pada daerah konflik dan memiliki akses ke air bersih yang cukup. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, serta para pemimpin dunia dan komunitas kemanusiaan pada umumnya, memiliki kewajiban untuk segera menghentikan permusuhan, memulihkan pasokan air, dan mematuhi hukum humaniter internasional, yang mensyaratkan perlindungan warga sipil dan pelestarian infrastruktur, terutama yang berkaitan dengan air dan sanitasi, yang sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka.

Sebagai serangkaian dari aktivitas-aktivitas Water Scarcity Program (WSP), Kementerian PPN/Bappenas dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyelenggarakan Pertemuan Tim Multidisiplin Nasional atau National Multidisciplinary Team (NMT) pertama pada Senin, 13 September 2023, melalui acara hybrid untuk membahas rancangan awal garis besar Rencana Aksi Pengelolaan Kelangkaan Air Nasional. Sembilan puluh satu peserta menghadiri pertemuan tersebut.

Pertemuan dibuka oleh Direktur Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas, Bapak Mohammad Irfan Saleh, menginformasikan pentingnya program WSP untuk membantu perumusan kebijakan dan arahan strategis pengelolaan kelangkaan air untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045. Pembukaan kemudian dilanjutkan oleh (Ibu) Caroline Turner dari FAO Asia-Pasifik, yang menjelaskan realitas meningkatnya kelangkaan air di Asia-Pasifik dan pengalaman kawasan Afrika terkait pengelolaan kelangkaan air.

Setelah sesi pembukaan, sesi selanjutnya dipimpin oleh Bapak Fany Wedahuditama dari Water Stewardship Indonesia (WSI) dan Global Water Partnership Southeast Asia (GWP-SEA), dengan fokus pada pentingnya National Multidisciplinary Team (NMT) dalam implementasi WSP di Indonesia. Diskusi difokuskan pada peran dan struktur NMT dan usulan keanggotaan kelompok kerja teknis. Di bawah ini adalah informasi rinci tentang peran dan struktur NMT.

Peran NMT:

Untuk mengembangkan rancangan Rencana Aksi Kelangkaan Air Nasional (WSAP), Struktur NMT yang Diusulkan:

Dalam diskusi tersebut, beberapa anggota NMT juga mengusulkan penambahan anggota yang penting untuk dimasukkan ke dalam NMT, yaitu Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri. Kementerian yang diusulkan ini memiliki beberapa direktorat dengan kepentingan langsung dan relevansi dengan masalah kelangkaan air.

Setelah diskusi mengenai NMT ditutup, dilanjutkan dengan pemaparan draft outline Rencana Aksi Kelangkaan Air oleh Bapak Fany Wedahuditama. Rencana Aksi Kelangkaan Air adalah output utama NMT, dan akan menginformasikan bagaimana Pemerintah Indonesia akan mengatasi tantangan kelangkaan air dengan menekankan beberapa tindakan yang dapat diterapkan, menyediakan infrastruktur terperinci dan rencana investasi kelembagaan, dan menunjuk tanggung jawab yang jelas untuk pemangku kepentingan utama. WSAP menawarkan pemahaman mendalam mengenai situasi air saat ini, mengusulkan kemajuan dalam praktik akuntansi dan alokasi air nasional, dan menyajikan inisiatif berwawasan ke depan untuk pengelolaan air yang efektif. WSAP akan menggarisbawahi pentingnya kerja sama multi-sektoral, modifikasi legislatif, dan kolaborasi di skala nasional dan internasional untuk mencapai penggunaan air yang berkelanjutan dalam menghadapi kelangkaan air yang memburuk.

Salah satu masukan utama WSAP adalah mengenai mekanisme insentif dan disinsentif untuk mendorong setiap otoritas daerah aliran sungai prioritas untuk mengembangkan penghitungan air sebagai dasar alokasi air. Item ini belum termasuk dalam draft garis besar. Selanjutnya, sebagai pertemuan NMT berikutnya, diharapkan NMT sudah dapat memiliki kesepakatan tentang garis besar beranotasi akhir WSAP; disarankan agar NMT memiliki platform kolaborasi untuk bekerja sama. Direktur Sumber Daya Air mengusulkan Water Stewardship Indonesia/GWP SEA untuk mengusulkan opsi platform terbaik seperti Moodle dan Google Classroom yang disebutkan sebagai platform umum.

Di akhir pertemuan, disepakati bahwa untuk pertemuan NMT berikutnya akan dijadwalkan pada akhir November atau awal Desember 2023. Selama Oktober – November, Kelompok kerja teknis akan mengadakan beberapa pertemuan untuk membahas garis besar WSAP dan isu-isu utama yang harus dibahas dalam rencana aksi. Selain itu, sejak awal, ini akan berguna untuk menyelaraskan format WSAP dengan format perencanaan pemerintah yang ada. Dan akan membantu dalam internalisasi WSAP ke dalam proses perencanaan dan penganggaran.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi (Bapak) Fany Wedahuditama: fany@ws-indonesia.org dan/atau fany.wedahuditama@gwpsea.org

Water Security Program (WSP) ini didukung oleh Food and Agricultural Organisation of the United Nations yang bekerjasama dengan Australian Water Partnership (AWP) yang didukung oleh Pemerintah Australia.

Setelah Workshop Kick-Off Meeting Water Scarcity Program pada akhir Agustus, kami telah berhasil memulai Pelatihan Akuntansi Air atau Training Water Accounting secara offline selama 4 (empat) hari, dari tanggal 29 Agustus – 1 September. Para pelatih dihadirkan dari Future Water yang didukung oleh the United Nations Food and Agriculture Organization (FAO), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Acara ini mengumpulkan 42 (empat puluh dua) peserta pelatihan.

Training Water Accounting ini merupakan bagian pertama dari rangkaian workshop training dengan Water Scarcity Program yang berfokus pada membangun pemahaman teknis yang solid tentang konsep-konsep berikut: 

Foto 1 - Pelatihan Akuntansi Air hari pertama

Hari pertama – Pengenalan Akuntansi Air (Water Accounting)

Dibuka oleh beberapa dua sambutan pembukaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan BAPPENAS. Peserta pelatihan diperkenalkan dengan pengetahuan dan konsep water accounting, seperti tujuan, komponen, terminologi, dan sasaran. 

Hari ke-2 – Peningkatan Kapasitas Akuntansi Air (Water Accounting)

Untuk hari kedua, peserta pelatihan mengeksplorasi dampak aliran lingkungan dan jasa ekosistem pada Water Accounting dan beberapa latihan-latihan untuk mengembangkan garis besar juga diskusi tentang ketersediaan data dan aksesibilitas.

Foto 2 - Pelatihan hari ke-2

Hari ke-3 – Akuntansi Air (Water Accounting) dalam Sistem Pertanian pada Skala Berbeda

Melalui hari ketiga, peserta pelatihan belajar dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang evapotranspirasi, memperkirakan penghematan air nyata di pertanian menggunakan alat REWAS, dan memahami dampak efisiensi irigasi melalui Follow Water Tool dan Latihan-latihan secara langsung. Sebelum menyelam ke dalam latihan, Prof. Dr. Drs. Waluyo Hatmoko, M.sc, a Profesor Riset Manajemen Sumber Daya Air, mengunjungi pelatihan untuk berbagi pengalamannya tentang pengetahuan dalam mengembangkan akuntansi air dan alokasi air di Indonesia.

Foto 3 - Future Water, GWP-SEA, WSI dan Prof. Dr. Drs. Waluyo Hatmoko

Hari ke-4 – Merancang Water Account

Pada hari terakhir, pelatihan dilakukan lebih aktif dengan melakukan kerja kelompok untuk merancang water account. Ini melibatkan pengembangan ringkasan DAS dan melakukan penilaian skenario untuk penghitungan air dengan mengeksplorasi Peta Bumi untuk mendapatkan data untuk Cimanuk.

Foto 4 - Semua peserta pelatihan dan pelatih setelah penyerahan sertifikat

Setelah pelatihan, para peserta diharapkan untuk:

Selanjutnya, agenda dari Water Scarcity Program setelah training ini adalah membangun National Multidisciplinary Team (NMT). Tim ini terdiri dari anggota dari berbagai organisasi air (Pemerintah, swasta, universitas, dan masyarakat) yang akan mengembangkan Percontohan Water Account, Roadmap Water Accounting, Deklarasi Kelangkaan Air, dan Rencana Aksi Kelangkaan Air/Water Scarcity Action Plan (WSAP). Water Scarcity Action Plan (WSAP) akan digunakan sebagai salah satu referensi utama dalam perencanaan dan penganggaran untuk program Ketahanan Air di Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Water Scarcity Program, silakan hubungi (Bapak) Fany Wedahuditama: fany@ws-indonesia.org and/or fany.wedahuditama@gwpsea.org.

Water Security Program (WSP) ini didukung oleh the Food and Agricultural Organisation of the United Nations yang bermitra dengan the Australian Water Partnership (AWP), yang didukung oleh Pemerintah Australia. 

Di kawasan Asia-Pasifik, sumber daya air membentuk dasar kemakmuran agraria dan pembangunan ekonomi. Namun, meningkatnya permintaan akan kebutuhan air karena pertumbuhan penduduk, industrialisasi dan urbanisasi yang cepat, serta perubahan iklim merusak sumber daya air tersebut. Seperti sama halnya dengan negara-negara bagian dunia lainnya, Asia-Pasifik menghadapi peningkatan kelangkaan air, dengan berbagai karakteristik, penyebab dan tren di berbagai negara pada berbagai tahap perkembangan.

Indonesia mengalami tiga jenis kelangkaan air: air yang terlalu bervariasi, pemanfaatan yang berlebihan dan kualitas air yang buruk. Sementara Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua memiliki surplus ketersediaan air, Jawa, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat mengalami kelangkaan air lokal dari berbagai jenis dan tingkat keparahan. Ada kelangkaan musiman di beberapa bagian Indonesia, yang mengakibatkan air terlalu bervariasi; Selama musim kemarau, 24 dari 128 daerah aliran sungai tidak mampu memenuhi kebutuhan air. Pemanfaatan sumber daya air yang berlebihan juga menjadi masalah di Indonesia, dengan konflik air antar pengguna. Permintaan akan kebutuhan air meningkat karena tekanan ekonomi; Permintaan air untuk kebutuhan industri sendiri diperkirakan akan meningkat dari 9 miliar m3 menjadi 36 miliar m3 antara 2015 dan 2045.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya, berkolaborasi bersama United Nations Food and Agriculture Organization (FAO) untuk mengimplementasikan Asia-Pacific Water Scarcity Program di Indonesia. Program ini diimplementasikan bersama dengan para mitra teknis dari Australia, yaitu Alluvium-Amperes, yang didanai oleh Australian Water Partnership, yang didukung oleh Pemerintah Australia. Asia-Pacific Water Scarcity Program (WSP) bertujuan untuk mendukung negara-negara di Asia-Pasifik untuk mengambil langkah-langkah praktis untuk mengatasi dan mengelola kelangkaan air saat mengalami pertumbuhan populasi yang cepar dalam iklim yang berubah-ubah.

Foto 1 Diskusi Program WSP via hybrid

Keuntungan dari WSP:

WSP bertujuan untuk membawa penggunaan air dalam batas berkelanjutan dan mempersiapkan wilayah untuk masa depan yang produktif dengan lebih sedikit air melalui pembangunan kapasitas nasional dalam penghitungan air yang rutin, mempromosikan kebijakan berbasis bukti, memberdayakan pemerintah nasional untuk mengatasi tantangan sumber daya air, dan mempromosikan kerja sama regional.

Hasil-hasil WSP di Indonesia:

  1. Pembentukan Tim Multidisiplin Nasional atau National Multidisciplinary Government Teams:
    • High-Level National Multidisciplinary Team (NMT)
    • National Multidisciplinary Team Water Accounting Working Group (NMTWG)
  2. Memberikan Training terkait Water Accounting
  3. Mengembangkan Pilot Water Account (DAS Cimanuk)
  4. Memberikan Roadmap Water Accounting
  5. Memberikan Water Scarcity Action Plan (WSAP)
  6. Memberikan Water Scarcity Declaration
  7. Memberikan High-Level Regional Technical Meeting terkait Water Scarcity
  8. Memberikan Regional Water Scarcity Symposium
  9. Panduan Praktisi Regional tentang Water Accounting

Pada Senin, 21 Agustus 2023, BAPPENAS bersama Water Stewardship Indonesia (WSI) sebuah organisasi terkemuka mengenai penatalayanan air yang baik di Indonesia, Global Water Partnership Southeast-Asia (GWP-SEA) platform multi-pemangku kepentingan untuk mendorong pendekatan terpadu untuk pengelolaan sumber daya air (IWRM), FutureWater, Alluvium-Amperes dan pemangku kepentingan lainnya mengadakan Kick-Off Meeting Workshop untuk Water Scarcity Program (WSP) melalui acara hybrid untuk menginformasikan, mendiskusikan dan mendapatkan lebih banyak masukan-masukkan untuk implementasi WSP yang optimal. Pertemuan Kick-off ini diikuti oleh lintas kementerian yang mana mencapai 99 orang peserta yang hadir.

Foto 2 Situasi diskusi di ruang rapat Bappenas

Salah satu komponen penting dalam pelaksanaan WSP adalah pembentukan National Multidisciplinary Team (NMT) yang anggotanya berasal dari berbagai organisasi lintas sektor pengairan (pemerintah, sektor swasta, universitas, dan masyarakat). NMT akan memiliki peran penting dalam mengembangkan Pilot Water Account, Water Accounting Roadmap, Water Scarcity Declaration, dan Water Scarcity Action Plan (WSAP). Water Scarcity Action Plan (WSAP) akan digunakan sebagai salah satu referensi utama dalam perencanaan dan penganggaran untuk program Ketahanan Air di Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak (Bapak) Fany Wedahuditama: fany@ws-indonesia.org dan/atau fany.wedahuditama@gwpsea.org

Water Security Program (WSP) ini didukung oleh Food and Agricultural Organisation of the United Nations yang bekerjasama dengan Australian Water Partnership (AWP) yang didukung oleh Pemerintah Australia.

Selasa, 20 Juni 2023, Gubernur Kepulauan Riau (Bapak) Ansar Ahmad secara langsung meresmikan program publik-swasta WASH. Program ini bekerja sama dengan Water Stewardship Indonesia (WSI), Global Water Partnership Southeast Asia (GWP-SEA), Safe Water Gardens (SWG), Universitas Gadjah Mada, dan UMRAH dengan dukungan hibah dari Tauw Foundation. Program ini telah berhasil membangun sarana sanitasi untuk 58 KK di tiga desa di Kabupaten Bintan, yaitu: Desa Busung, Kuala Sempang, dan Pengujan; ketiganya menjadi desa pertama yang menerapkan fasilitas sistem Water Sanitation and Hygiene (WASH) di Indonesia.

Melalui program ini, beberapa fasilitas telah dibangun untuk masyarakat sekitar yang mencakup sistem sanitasi berupa septik tank, wastafel dapur, tandon air, dan filter air (water filter). Ini juga memiliki dampak positif dengan terpasangnya 48-unit SWG, lima tandon air, 51 kitchen sink, 46 toilet, dan 58 filter Nazava. Dua ratus enam belas warga dari 58 kepala keluarga mengalami dampak positif atas program ini, serta munculnya 13 usaha mikro baru.

Pemerintah tentu saja telah memberikan dukungan dan mendorong upaya untuk meningkatkan kualitas hidup melalui berbagai program kesehatan, di mana sanitasi dan air bersih adalah hal pertama yang kita tangani.

Gubernur Kepulauan Riau (Bapak) Ansar Ahmad

Selain itu, Gubernur mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam program ini dan mengajak seluruh masyarakat untuk mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat, SWG juga melatih enam orang sebagai pelatih yang akan melanjutkan pembinaan WASH di desa lain. Dengan adanya para trainer WASH, desa-desa lain yang ingin melaksanakan program WASH dapat menimba ilmu dari trainer yang telah dilatih.

Pendiri Safe Water Garden, Dr. Marc Van Loo.

Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat WASH kepada Trainer WASH oleh Gubernur yang akan menjadi promotor dan perpanjangan kerja di desa-desa yang akan menjadi Pusat Pengetahuan WASH. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya WASH dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Direktur Eksekutif WSI, (Bpk) Fany Wedahuditama: Fany@ws-indonesia.org

Yuk intip keseruan Koalisi Air Indonesia yang diwakilkan oleh para Founding Member, yaitu:

1. Ratih Anggraeni - Head of Climate and Water Stewardship, Danone Indonesia
2. Rudi Zapariza - Stakeholder Outreach Manager, YKAN
3. Mellisa Mina - Sustainability Manager, Multi Bintang Indonesia
4. Fany Wedahuditama, Executive Director of Water Stewardship Indonesia (WSI) and Regional Coordinator, Global Water Partnership - Southeast Asia (GWP-SEA)

Acara ini diselenggarakan minggu lalu dan dihadiri oleh para pengunjung atamerica di Pacific Place Mall Lantai 3. Acara ini membahas seputar aksi-aksi bersama dalam mengatasi krisis air global.

Tonton rekaman selengkapnya.

Jejaring IWSN berhasil mengadakan pertemuan pada bulan Maret 2023 untuk menentukan bentuk dan pengelolaan Jejaring IWSN untuk tahun 2023. Sejumlah lembaga dan organisasi hadir dalam pertemuan daring tersebut, antara lain Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN), Institut Teknologi Bandung (ITB), Perum Jasa Tirta 1 Malang, Forest Stewardship Council (FSC) Indonesia, Yayasan Konservasi Indonesia, Center for Regulation, Policy and Management (CRPG), dan Water Stewardship Indonesia (WSI).

Para anggota sepakat bahwa bentuk kelembagaan saat ini dengan pilihan yang paling banyak dipilih adalah Tahapan – Legal Identitas, dimana bentuk kelembagaan ini merupakan bentuk awal dengan struktur kepengurusan organisasi secara utuh hingga organisasi benar-benar mandiri, dengan tujuan akhir membentuk identitas hukum dalam bentuk asosiasi/perkumpulan yang terdaftar dan sah secara hukum.

Manajemen terstruktur manajemen IWSN yang disepakati adalah sebagai berikut:

Pertemuan IWSN Maret 2023

Berdasarkan keputusan-keputusan di atas, manajemen baru akan terlebih dahulu mengadakan rapat internal pada bulan April untuk menentukan Rencana Aksi IWSN untuk 2023/2024. Selanjutnya, manajemen IWSN perlu mengembangkan strategi dan rencana manajemen untuk mencapai tujuan dan sasaran IWSN.

Diharapkan  IWSN segera mengadakan acara publik pertamanya untuk memfasilitasi adopsi dan implementasi prinsip-prinsip penatalayanan air yang adil dan tangguh yang berkelanjutan di Indonesia serta peluncuran resmi IWSN.  Peluncuran resmi Jejaring IWSN diharapkan dapat mendorong banyak pihak dan pemangku kepentingan lainnya untuk bergabung dalam jejaring tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Bapak Catur Adi Nugroho: catur@ws-indonesia.org

Pada 6 Februari 2023, Koalisi Air Indonesia atau disebut dengan Indonesia Water Coalition (IWC) sukses menggelar pertemuan pertamanya secara tatap muka di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ), Bogor, Jawa Barat. Pertemuan tersebut diadakan untuk membahas program-program koalisi, termasuk rencana ketiga kelompok kerja untuk tahun ini untuk memastikan pencapaian tujuan akhirnya, yaitu ketahanan air yang mendukung pembangunan masyarakat, lingkungan, dan ekonomi di Indonesia.

Pertemuan tersebut juga membahas pentingnya menyelaraskan setiap rencana kegiatan kelompok kerja dengan penganggaran yang ada untuk memastikan mobilisasi sumber daya yang memadai dan meluncurkan logo resmi koalisi. Setelah menyelesaikan semua rencana kerja, anggota koaliasi akan fokus pada memastikan implementasi rencana kerja. Kemudian, untuk mengakhiri pertemuan, para anggota melakukan penanaman pohon sebagai bentuk dari misi koalisi yang mendukung konservasi sumber daya air.

Penanaman pohon oleh perwakilan masing-masing organisasi

Anggota Koalisi Air Indonesia adalah PT Coca-Cola Indonesia, PT Danone Indonesia, Global Water Partnership Southeast Asia (GWPSEA), PT LÓreal Indonesia, PT Multi Bintang Indonesia, PT Nestle Indonesia, PT Unilever Indonesia, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dan Yayasan Aliansi Wali Sumber Daya Air Indonesia (Water Stewardship Indonesia), yang memiliki tujuan bersama untuk secara aktif bekerja menuju ketahanan air dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan melalui tindakan kolektif.

Hubungi kami atau Sekretariat Koalisi Air Indonesia: Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk informasi lebih lanjut.

magnifiercross